24.7.07

Halo Jakarta


Sudah lama sekali saya tidak ke Jakarta. Seingat saya, terakhir ke sana tahun 2004. Bareng rombongan gila main Kuis Siapa Berani (kuis yang sekarang sudah almarhum).

Saya berangkat dari Purwokerto tanggal 17 Juli malam menumpang KA Purwojaya. Ternyata, saya ingat-ingat lagi, terakhir kali saya ke Jakarta memakai KA adalah tahun 1996!! Saya ingat betul. 26 Juli 1996. Mengantar saudara yang mau berangkat ke Singapura lewat Soekarno-Hatta. 27 Juli, saat sedang di Gambir menunggu KA pulang ke Purwokerto, pecah kerusuhan 27 Juli yang tersohor itu.

Ternyata Purwojaya datang kepagian. Jadilah saya dijemput teman saya di Jatinegara jam 2.15 pagi. Huhu...

Ngapain sih saya bela-belain jauh-jauh klayapan ke rimba raya bernama Jakarta?

Alasan utama, tentu saja mau nonton bola. Partai Piala Asia antara Indonesia vs Korea Selatan di Stadion Gelora Bung Karno, 18 Juli 2007. (Tentang acara nonton bola ini, bakal saya tuliskan terpisah).

Ada juga tujuan lain yang nggak kalah serunya. Kopdar! Hahahaha...

Saya janjian mau ketemu Simbok Venus. Membalas budi baik beliau mengirim buku buat saya, jadi saya bawakan juga buku tipis, Pangeran Kecil. Simbok katanya mau ngajakin Bu Evy sama Lutfi. Kita janjian ketemu di Cibubur Junction. Bleh, jauhnya dari Jakarta. Sebenernya nggak juga ding karena saya mampir dulu di rumah sepupu yang juga tinggal di Cibubur. :D

Dari janjian jam 11, saya molor setengah jam. Maaf, soalnya harus nemenin sodara saya ngirim kitchen set ke pelanggannya. :D

Simbok nunggu di Olala Cafe. Sepanjang saya masih di jalan, Simbok beberapa kali SMS. "Kamu di mana? Aku dah nungguin kaya tante2 lg nungguin mangsa". Kira-kira gitu deh. :))

Ternyata, Simbok bilang kalo Bu Evy nggak bisa dateng gara-gara lagi sibuk. It's OK bu Evy, kapan-kapan lagi kan masih bisa. :D Nah, jadilah yang kopdar cuman saya, Simbok, sama Luthfi.

Nggak penting apa yang kami obrolin ditulis di sini. Wes to, percayalah, ndak mutu blas. :))

Saya kasih foto-fotonya aja. (So sorry kalo posting ini lumayan basi. Saya baru aja punya waktu buat nulis. Hehehe.)

Ini Luthfi
ini Simbok Venus
Panganane enak ta, Fi? ;))

21.7.07

Kembali




Tolong, ini penting. Harap dicatat:

Saya mulai nge-blog lagi!!
*Ngasih sun jauh buat fans yang udah tereak-tereak histeris. Lambaikan tangan ke segala penjuru.
(Ngabur sebelum ditimpukin massa)

Yeah, KKN is not that scary, my man. Please, welcome me back to the blogsphere.

23.6.07

Prolog Panjang Untuk Sebuah Tekad Tetirah


I beleive that for his escape he took advantage of a flight of migrating wild birds
Halaman pembuka buku Pangeran Kecil karya Antoine de Saint-Exupery.
Gambar dibuat oleh sang pengarang sendiri

Hari-hari terakhir ini, jumlah batang rokok yang saya hisap makin bertambah banyak saja. Biasanya, saat stres sedang hinggap di benak, saya paling banter menghabiskan separo bungkus rokok putih itu. Belum melonjak hingga 2 bungkus per malam seperti yang pernah dialami teman saya. Tapi belakangan ini memang saya semakin merasakan tekanan dan hal itu membuat saya mencari pelarian.

Begitu banyak hal yang sedang saya pikirkan dan lakukan saat ini. Setidaknya, 3 hal utama. Yakni keluarga, kerja, dan kuliah (sedikit banyak menunjukkan urutan prioritas).

Saya tidak ingin mengeluh. Terutama untuk urusan yang pertama itu. Tapi, 2 hal terakhir itu saat ini rupanya sedang saling tarik menarik tak karuan.

Awal Juli nanti, hingga 2,5 bulan ke depan, saya akan menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ah telat banget sih. Hare gene baru KKN? Sebenarnya, dengan posisi saya sebagai pekerja, saya beruntung bisa mengikuti program KKN yang tidak memakai menginap dan berlokasi di tengah kota. Aha...girang betul saya karena ada teman-teman saya mendapat lokasi di Kediri dan Madura.

Tapi kondisi demikian tidak lantas membuat segalanya berjalan beres dengan sendirinya. Ternyata, sedikit banyak jadwal KKN bentrok dengan jadwal kerja. Waduh...

Ah... malam ini badan dan pikiran penat betul untuk membayangkan situasi yang akan saya hadapi dalam 2,5 bulan ke depan. Sembari melihat saya mengisap tuhan sembilan senti itu, teman saya meminta saya menikmati malam-malam terakhir saya bisa berleha-leha dan bersantai. Karena mulai pekan depan, selesai kerja saya akan disibukkan KKN, dan mungkin juga, selesai KKN, saya kembali larut dalam kesibukan kerja. Waktu untuk bersantai, hampir-hampir nol!

Belum lagi, saya juga harus memikirkan nasib S thing saya yang sampai sekarang belum jalan juga. Saya harus dengan rajin dan telaten mulai sering-sering menemui bapak ibu dosen yang setia nongkrong di ujung utara lorong lantai 2 salah satu gedung di kampus saya, yakni ruang bagian Hukum Pidana. Mulai mendiskusikan judul dan proposal, dan bersiap menerima banyak coretan di draft.

Apakah gambaran di atas sudah cukup memusingkan Anda? Entahlah.

Saya tahu, Anda pasti akan memberi saran untuk berhenti berkeluh dan mulailah berpeluh mengerjakan semua beban itu. Syukurlah, otak saya masih cukup waras untuk bisa melakukan hal-hal yang memang seharusnya saya lakukan. Terimakasih untuk sarannya.

Karena itu, berkebalikan dengan rekan saya, dengan ini saya mengumumkan bahwa saya HIATUS dari kegiatan ngeblog. Toh, kehidupan akan tetap sama dengan ada atau tidaknya posting blog saya. Matahari akan tetap terbit dari timur dan terbenam di barat. Ayam masih saja akan rajin berkokok membangunkan Anda semua tiap fajar. Percayalah. Perang Irak pun tidak akan lantas berhenti esok.

Saya akan kembali jika memang saya merasa yakin prioritas yang saya susun sudah berjalan.

Malam ini, ijinkan saya meneruskan kenikmatan hari-hari kebebasan bermalas-malasan itu dengan membaca buku The Little Prince dalam versi Bahasa Inggrisnya. :D

Haiyah, mau hiatus aja kok prolognya pakai panjang-panjang tho, le, le...
--------
Gambar saya colong dari sini

9.6.07

Aku Selingkuh


Beberapa hari belakangan ini, hal-hal seputar kopi mengelilingi saya.

Ada seorang kolumnis yang sangat mencintai kopi dan mempersembahkan sebuah tulisan yang indah kepada seorang peracik kopi. Seorang barista. Ketika saya tanya siapa sang barista, ia cuma berucap pendek: "ada deh...", dengan penuh misteri.

Lalu, ada juga sahabat lama yang gemar sekali ngopi. Dia mengaku paling senang berkunjung ke rumah saya hanya buat nyeruput kopi. Bujangan yang satu ini sekarang sedang gemar membaca Filosofi Kopi (sebuah buku yang pencapaian literer dan estetiknya biasa saja, saya pikir). Saya yakin betul, gara-gara membaca buku karangan penulis perempuan satu itu, dia jadi kerap memasang avatar gambar secangkir kopi hitam di perpesanan Yahoo!-nya.

Sebenarnya, saya suka kopi dari kecil. Mencicipi pahit-manis minuman yang konon berasal dari sebuah negara di Afrika timur bernama Ethiopia ini, saya awali pada usia 11 atau 12. Kelas 6 SD, kira-kira.

Dulu saya hanya tahu kopi hitam alias kopi tubruk. Terbikin dari kopi yang disangrai sendiri oleh ibu saya. Kental. Dengan gula pasir ataupun gula kelapa, kopi bikinan tangan ibu saya ini sama enaknya.

Seperti ditulis Dee, kopi tubruk itu lugu dan sederhana. Tidak peduli penampilan serta kasar, tapi memiliki aroma tajam yang sangat nikmat.

Tapi semenjak kedatangan majalah gratisan ini, mulailah saya selingkuh dengan kopi jenis lain. Orang menyebutnya, espresso-based. Kopi yang coklat alih-alih hitam.

Latte, cappuccino, cappuccino Viennese-style, macchiato. Hanya sekedar menyebut nama-nama. Beberapa sudah saya cicipi. Kopi yang tidak lagi kasar dan sederhana. Lebih stylish, tampil lebih anggun. Kemasan menarik, dipadu dengan rasa yang tetap nikmat. Perpaduan yang sempurna, bukan?

Rupanya, perselingkuhan itu makin dalam. Saya terjebak dan tidak bisa lepas. Saya makin terobsesi dengan kopi espresso-based. Saya mencicip di sini dan di sana. Mencoba-coba jenis-jenis baru, membandingkan rasa dari satu coffeeshop dengan coffeeshop lainnya.

Di depan meja kerja, keterobsesian itu tak pudar. Saya mulai untuk menjelajahi jejaring web untuk mencari tahu bagaimana caranya meracik kopi selingkuh ini. Kemudian upaya untuk mencari tahu informasi tentang mesin espresso. Lalu membayangkan mampu membeli sebiji suatu saat kelak. Untuk dipakai di rumah. Agar kopi-kopi nikmat itu bisa menemani saya setiap hari. Entah kapan bisa terwujud, mengingat harga mesin-mesin itu yang masih cukup mahal.

Hingga kini, kerinduan akan kopi itu belum hilang. Sebuah Sabtu yang panjang sudah saya lewati tadi siang. Tapi sayang, tak ada secangkir kopi menemani saya malam ini...

------------------------------
PS, untuk seorang kawan:
Jadi, kapan kita ngopi? Segelas kopi panas akan menemani kita bicara panjang. Soal hidup, keragu-raguan dan perkara kegelisahan-kegelisahanmu itu. Masih menyitir Dee, di dalam kopi selalu terselip rasa pahit, sedikit ataupun banyak. Tak apalah. Bukankah hidup memang selalu seperti itu, kawan?

*Gambar dicolong dari sini

31.5.07

Kenangan Kereta Api


Sejak kecil, saya terpesona dengan kereta api.

Ular beroda besi yang
dengan setia menyusuri rel-rel panjang dengan tak kenal lelah. Kerap kali saya bertanya, apakah rel-rel itu merasa kesepian? Menyusuri banyak tempat. Hutan, gunung, terowongan. Apakah sepasang rel itu pernah berbicara satu sama lain? Ah, entahlah.

Saya ingat, saat kecil saya beberapa kali pergi ke kota Malang naik kereta api. Sebenarnya, tidak benar-benar naik kereta api ke Malang. Saya dan keluarga naik kereta api ekonomi bernama Purbaya. Berangkat kira-kira jam enam pagi dari Stasiun Purwokerto. Kami akan turun di Stasiun Kertosono, timur kota Ngawi. Di Stasiun Kertosono inilah, rel jalur selatan akan bercabang. Ke kiri ke arah Surabaya, dan ke kanan ke arah Blitar, lalu Malang.

Tapi tidak, kami tidak meneruskan perjalanan ke Malang memakai kereta. Kami mencapai Malang memakai bus. :D

Kereta Purbaya sungguh jelek. Cat biru berpadu merah yang kusam dan atap yang menghitam. Kaca jendelanya pun pecah di sana sini. Melangkah ke dalam, ada bangku dengan busa yang tipis. Tanpa sandaran kepala. Hanya papan yang jadi bagian dari kursi dengan tinggi melebihi kepala.

Kamar mandinya pesing. Lantainya jauh dari kata bersih. Ditambah lagi, sepanjang perjalanan bakal banyak pengamen dan pedagang asongan. Jalannya lambat, seringkali dipaksa menunggu kereta dengan kelas lebih tinggi jika berlintasan. Gurauan kami dulu, di mana ada stasiun, di situ Purbaya akan berhenti dan menunggu kereta dari arah berlawanan melintas dahulu.

Beranjak dewasa, saya masih dan makin mencintai kereta api.

Saat sekolah menengah pertama dan menengah atas, saya beberapa kali pergi ke Yogyakarta. Berangkat pagi-pagi. Tak lagi menumpang Purbaya yang sudah almarhum. Kini ada reinkarnasinya, bernama KA Logawa. Tiket Purwokerto-Yogya dulu tiga ribu Rupiah (sekarang tarifnya dua puluh ribu Rupiah). Pulang dari Yogya sore hari, menumpang kereta yang sama, Logawa (tapi berbeda rangkaian, karena kereta ini berangkat dari Jember).

Suara lokomotif dan peluit petugas stasiun yang khas tak jarang terngiang di telinga. Kadang, saya melewatkan beberapa jam nongkrong di Stasiun. Ngapain? Tidak ngapa-ngapain. Hanya duduk, memandang rangkaian gerbong-gerbong yang datang dan pergi. Mengagumi keperkasaan lokomotif tua seri CC, dan juga menatap lekat-lekat lokomotif baru seri DD.

Menyaksikan para penumpang yang naik dan turun. Ada penumpang yang bersih parlente turun dari kereta kelas Argo. Ada pula bapak-bapak tua yang kumal turun dari kereta ekonomi yang buluk. Pun, ada mbok-mbok pedagang pecel lontong menjajakan jualannya. Waktu pun serasa terhenti di atas rel-rel perkasa itu.

Di dekat kantor saya, ada pintu perlintasan kereta api yang setiap hari saya lewati saat berangkat dan pulang kerja. Mungkin Anda akan merasa sebal kalau harus menunggu kereta lewat. Tapi saya justru senang bukan kepalang bila harus menunggu.

Matikan mesin motor, lalu bersandar di setang motor. Menatap si ular besi melintas. Ada kereta yang lewat dengan cepat, ada juga yang pelan. Menjejakkan roda-roda besi ke rel-rel baja. Menyenangkan sekali. Lokomotif, gerbong-gerbong renta, bau khas itu. Ah, romantisme saya pun melayang kembali ke masa lalu...

26.5.07

Satu Warsa Bencana Itu



Ah... satu warsa sudah. Gempa itu. Bencana, mimpi buruk itu. Pagi-pagi buta, kami diguncang keras. Dibangunkan dari lelap tidur kami. Berlarian, berhamburan menyelamatkan diri.

Bencana memang tak pernah bisa diduga. Saat itu, kamilah yang sedang disapa olehnya. Ia menerjang tak terhalang. Ia rontokkan rumah, gedung, juga sekolah. Ia remukkan temboktembok perkasa.

Lebih dari enam ribu nyawa terkorban. Puluhan ribu luka-luka. Ratusan ribu lainnya kehilangan atap tempatnya berteduh. Yang paling pedih, luka itu bagaikan menahun. Masih membekas di sanubari kita.

Ah... satu warsa sudah. Kita ditegur oleh-Nya. Bahwa kita hanya manusia. Lemah, tak berdaya. Kita kerapkali ditelan oleh kesombongan dan ego kita. Kita alpa. Kita lupa bagaimana cara menyapa tetangga, kita lupa bagaimana membantu orang-orang sekitar kita. Sang Khalik telah meminta kita menoleh.

Tapi satu warsa, dua tiga warsa, satu abad sekalipun, sepertinya tak berarti bila kita tak mengambil hikmah dari bencana.

Kini, saatnya kita bangkitkan Jogja. Jalin kebersamaan dengan lebih erat. Bahu membahu membangun Jogja menuju arah yang lebih baik.

Tak lupa teriring juga ucapan beribu terimakasih untuk semua yang telah sudi mengulurkan tangan. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya.

Salam dari Jogja.

22.5.07

When You're Turning Two


Sayang...
Tak banyak yang bisa kami berikan padamu
saat kau menginjak usiamu yang kedua


hanya sekedar doa

yang tak henti kami panjatkan setiap malam, juga siang

Sayang...

Kami pasti bukanlah orangtua idaman
tapi percayalah
kami hanya ingin membuatmu bahagia

di tengah peradaban yang makin tidak jelas ini

Sayang...
Maaf bila kami seringkali membuatmu sedih
yakinlah, tak ada setitikpun niat untuk itu

Akhirnya,
hanya ucapan ini yang bisa kami hantarkan untukmu

Tertanda,
Ayah dan Ibu

-----------
Tambahan: sayang Ei ndak mau liat kamera. Sebab dia sibuk merhatiin kue ultah yang masih ada lilinnya di sebelah kirinya