Showing posts with label dunia. Show all posts
Showing posts with label dunia. Show all posts

3.8.07

Asian Cup Retrospective (1): Mereka Yang Tak Ber-Tanah Air


Bayangkan Anda adalah manusia yang tak memiliki tanah air. Mungkin, Anda tak mengenal kata "pulang". Buat Anda, rumah adalah sesuatu yang jauh. Mengawang. Sekedar imajinasi kosong. Mengelana, mengembara. Lantas perlahan lupa kepada awal dari diri kita.

Bila Anda ingin tahu contoh manusia-manusia yang tak ber-tanah air, lihatlah tim sepakbola Irak. Sungguh nelangsa.

Irak dengan gilang gemilang merebut Piala Asia 2007. Inilah kali pertama mereka merebut titel sepakbola paling bergengsi di Asia. Dalam partai final di Jakarta, Irak mengalahkan tetangganya, Arab Saudi 1-0.

Sebuah sundulan dari in-and-out leader mereka, kapten Younes Mahmoud Khalef, membungkam pasukan Rajawali Hijau Arab Saudi.

Keharuan tertangkap dari raut muka para pemain Irak. Mereka tentu saja teringat keadaan di kampung halaman mereka. Negeri yang tercabik-cabik perang. Bom bunuh diri, pembunuhan, dan penculikan terjadi di mana-mana. "Di Baghdad, Anda takkan tahu siapa yang akan membunuh Anda hari ini", ucap seorang pemain.

Irak, mereka yang terfragmentasi, ternyata bisa memberi obat luka yang manis. Saya yakin, di dalam tim Irak, ada yang Sunni, ada yang Syiah, ada yang Kurdi, dan bahkan mungkin ada yang Kristen. Tapi mereka bersatu. Mereka maju dengan gagah berani. Dipimpin pria setengah baya, Jorvan Vieira yang Katolik.

Mereka tumbangkan satu dari banyak penjajah mereka, Australia. Mereka kalahkan lawan-lawan yang memiliki organisasi sepakbola lebih teratur. Mereka membungkam negeri-negeri makmur yang bergelimang dinar. Mereka pukul telak negara dengan pendapatan per-kapita jauh di atas mereka.

Irak memberi contoh nyaris sempurna tentang apa itu arti persatuan.

Tapi pedih. Para pahlawan rakyat itu tak bisa berpesta di negeri sendiri. Karena pertimbangan keamanan, Irak menggelar perayaan di Dubai, Uni Emirat Arab dan bukan di Baghdad, Basra, atau kota mana pun di Irak. Di antara gembira, ada kepedihan. Di tengah pesta, ada duka merayap di hati mereka.

Mereka tak bisa bersuka ria di depan para kerabat yang menunggu. Tak ada tukar peluk cium dengan rakyat yang sudah mendukung dan mendoakan mereka. Sedih? Pasti. Mereka adalah: yang tak ber-tanah air.

Foto: Ed Wray/AP

21.4.07

Angkara Menggeram Dari Dua Pucuk Pistol Cho


Hari itu, Senin 16 April 2007. Jam masih menunjukkan pukul 07.15 pagi. Kampus Virginia Tech yang teduh dan luas di Blacksburg, Virginia, AS, sungguh tenang. Perkuliahan baru akan dimulai pukul 08.00.

Tapi di lantai 4 asrama mahasiswa West Ambler, kegaduhan terjadi. Seorang pria, agak gemuk, berjalan dengan tergesa. Di dua tangannya, tergenggam dua pucuk pistol. Lelaki itu menyerang asrama yang dihuni 895 mahasiswa tersebut. Pistol sang penyerang menyalak, dan 2 orang pun tersungkur tewas di pagi celaka itu.

Pria itu tak berhenti di situ. Dua jam kemudian, ia kemudian juga menyerang Norris Hall, gedung kuliah yang selalu ramai oleh para mahasiswa. Apalagi di hari Senin. Suara tembakan bersipongang di seantero gedung. 30 nyawa dihabisi. Kemudian nyawa sang penyerang pun melayang oleh tembakan pistol empunya sendiri.

Adalah Cho Seung-hui yang melakukan semua kesadisan itu. Cho, pemuda imigran asal Korea Selatan itu. Usianya baru 23 tahun lewat 3 bulan.

Diantara 2 aksi pemberondongannya, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris itu sempat mengirim paket ke sebuah stasiun televisi. Isinya, catatan sepanjang 1800 kata yang terkadang tidak saling berkaitan. Foto-foto dalam pose yang intimidatif. Serta klip video berisi sumpah serapah dan penuh dengan ancaman. Mungkin, ia ingin dunia tahu, mengapa ia sanggup melakukan kekejaman semacam itu.

Cho adalah pria yang marah. Ia frustasi dengan kehidupannya. Ia berasal dari keluarga miskin di Dobong-gu, Korea Selatan. Ia berimigrasi ke AS saat berusia 8 tahun, beserta ayah ibunya dan kakak perempuannya. Demi kehidupan yang lebih baik. Ayah-ibunya bekerja sebagai buruh di sebuah laundry di Washington DC.

Bertingkah aneh dan psikotik, Cho juga adalah buah dari sebuah masyarakat yang tidak beres. Komunitas yang menghakimi dan abai. Orang-orang yang menghina dan menjaga jarak. Dalam satu kelas, Cho diminta membaca. Ia bersuara pelan. Nyaris tak terdengar. Teman-teman sekelasnya menertawainya seraya berkata, "Kembali saja kau ke Cina!". Menggelikan untuk mereka, menyakitkan untuk Cho.

Cho tak punya teman. Ia penyendiri. Ia juga canggung. Sialnya, Cho hidup di sebuah negara yang mentradisikan bullying (menggencet) dalam dunia pendidikannya. Kutub siswa populer melawan kutub siswa pecundang. Yang pasti, yang dinistakan tentu saja yang pencundang. Ia marah melihat mahasiswa-mahasiswa kaya di sekitarnya. "Aku jengah melihat gaya hedonistik mereka. Aku takkan lari", demikian tulisnya penuh geram dalam surat yang ia kirimkan ke televisi.

Angkara itu menggeram. Lalu menyalak, menghambur keluar melalui peluru dari dua pistol Cho.