2.5.07

Salah Impresi


Don't judge a book by its cover. Kita semua tahu ungkapan lama itu.

Tapi, beberapa waktu belakangan kalimat itu tak lagi cukup.

Maksud saya, ketika kita sudah tidak sekedar memandangi kovernya, tapi kemudian juga sudah membaca isinya (meski sedikit). Kemudian impresi yang kita dapatkan dari melihat kover dan membaca (sebagian) isi buku itu ternyata tak sepenuhnya benar atau bahkan keliru sama sekali?

Pernahkan Anda merasa telah salah menangkap kesan tentang seseorang? Padahal Anda sudah berusaha mematuhi credo "don't judge a book by its cover". Nah!

terimakasih buat Bungky yg ngobrol di YM sambil terkantuk-kantuk hingga jam 11.30 malam

13 comments:

cya said...

kalau untuk buku.. i judge the book by its cover, its review and its tag price.

kalau untuk manusia...
i judge people by its blog!!

lha klo blogless piye? :P

Priki said...

Wogh... wogh...... wogh.... gara sms yang ngga jelas dan absurd itu ya?? dasar wong edan..... *wuakakakaka

elantowow said...

utk kasus yg pertama...
mmm bisa jadi itu buku emang salah sampul

utk pertanyaan ttg manusia...
hmm manusia kan emang tempatnya salah
Toh kita bs belajar.. :)

Kang Kombor said...

Kalau men-judge dari blognya tanpa pernah bertemu muka mungkin juga bisa salah. Diskusi melalui rentetan kata dan kalimat tetap tidak sedahsyat dengan diskusi yang bisa dilakukan dengan tatap mata. Banyak ekspresi yang hilang dari untaian kata dan kalimat tetapi akan kelihatan pada saat diskusi kopi darat.

Arya said...

@cya
kalo blogger FS gimana?

@priki
huahaha...moso seh?

@elantowow
iya, itu memberi pelajaran buat saya

@kang kombor
wah keknya kopdar blogger indonesia perlu nih kang? :D

Tika Pu3 said...

hmn...kadang seperti cover buku, ada yg bagus dilihat di tempat terang, ada yg bersinar di kegelapan. ADa yg kertasnya klo lg basah cerah, ada yg anti air...yah bisa jg kog judge p'ple based on its cover...karna manusia itu kan berlapis lapis...
Kalo buku sekali dibuka abis...tp klo manusia...siapa yg bisa mastiin apakah itu masih covernya apa udah aslinya hehe

Raffaell said...

Ahh, hilangkan kebiasaan judge 2 an lah.....

takut salah

elantowow said...

pelajaran buat aku juga... :)

jangan trus paranoid dan ngga mau nyentuh buku lagi

kita justru bisa bantu untuk memilihkan sampul yg sesuai

lebih bermakna jika ngga cuma bantu nyesuaiin sampul dan isi bukunya, tetapi juga bantu milih sampul dan ngedit isinya, shg bs jadi lebih baik

tp emang baiknya aku, dia, dan mereka itu kadang beda...

venus said...

ada apa lagi ini ada apa ada apa???

Arya said...

@tika pu3 dan elantowow
wah, ini dalem banget nih..pengalaman pribadi neh?

@raffael
ini bukan tentang judging kok. ini tentang impresi. :D

@venus
halah...mbakyu mbakyu...

Priki said...

ya tapi khan impresi nantinya mengarah ke judging *doh* yo wes gpp dink, lah wong aku ngga tau apa² kok :| *remain silent* =))

Anonymous said...

HEMMM...don't judge book form the cover...pameo itu bisa salah bisa benar...seperti saya, secara saya dulu mantan praktisi hukum di sebuah kantor pengacara, secara performance luar sebagai awalan sangat perlu di dunia seperti ini...seberapa mahal dasi anda, seberapa bermerk kemeja anda...seberapa mengkilap sepatu anda..dan seberapa bahenol sekretaris anda...itu mutlak perlu...tapi...jangan tanyakan performance luar kepada petani..karena dia tak perlu eksistensinya dipertanyakan..karena dia tak perlu pengakuan..ketika anda memakan nasi yang anda makan...jadi conclutionnya adalah
seberapa penting anda dan dunia anda menganggap penting arti eksistensialisme bagi anda..
yah...penting ngga penting sih...okeh

cya said...

sepertinya saya tahu kenapa masnya yang itu anonymous.
karena dia ndak punya blog!

:rayu ipung utk mbuat blog: